Menggagas Pengembangan Wisata Lokal

Dadang A. Sapardan

(Camat Cikalongwetan Kabupaten Bandung Barat)

Pada satu waktu berkesempatan berkunjung ke Desa Ponggok Kecamatan Polanharjo Kabupaten Klaten di Yogyakarta. Kunjungan dilakukan bersama beberapa kepala desa dari Cikalongwetan. Kunjungan dimaksudkan untuk mendapat informasi faktual tentang tata kelola desa yang dilakukan Kepala Desa Ponggok. Pilihan pada Desa Ponggok dilakukan karena desa ini menjadi salah satu desa yang dikelola dengan baik sehingga menjadi desa role model dalam tata kelolanya. Berdasarkan informasi dari Kepala Desanya, Desa Ponggok pada awalnya merupakan salah satu desa termiskin di Klaten. Posisi itu berubah drastis setelah dikelola dengan baik oleh Kepala Desanya dengan mengoptimalkan kepemilikan potensi yang selama beberapa tahun ke belakang tidak tersentuh dengan baik. Salah satu potensi dimaksud adalah pemanfaatan aliran air dari berbagai sumber mata air untuk pertanian, perikanan, dan wisata lokal.

Salah satu potensi yang dimiliki beberapa desa di Cikalongwetan adalah potensi alam yang dapat dikembangkan menjadi destinasi wisata lokal. Suasana alami Cikalongwetan sangat menjanjikan untuk dapat dinikmati oleh setiap wisatawan, terutama masyarakat perkotaan. Tidak bisa dipungkiri bahwa masyarakat perkotaan mendambakan suasana alami pedesaan setelah selama beberapa waktu begitu suntuk dengan hiruk-pikuk suanana perkotaan.

Di Kecamatan Cikalongwetan terdapat cukup banyak potensi wisata lokal yang dapat dikembangkan lebih baik lagi. Hampir seluruh desa di Kecamatan Cikalongwetan memiliki potensi yang bagus sebagai destinasi wisata lokal dengan nuansa alami. Beberapa potensi wisata yang dimaksud adalah gedung Ditlov Brix di Desa Kanangasari, Bobojong di Desa Kanangasari, Bukit Senyum di Desa Cipada, Villa Kaca Mentras di Desa Mandalamukti, Cisaladah di Desa Ganjarsari, Villa Ereng di Desa Ganjarsari, Sindang Geulis Kahuripan di Desa Ganjarsari, Benteng Belanda di Desa Mekarjaya, Saksaat di Desa Mekarjaya, Pabrik Teh Panglejar di Desa Cisomang Barat, Curug Cijambur di Desa Puteran, Pasir Karaton di Desa Mekarjaya, Loseng Munjul di Desa Cikalong, dan Hutan Pinus di Desa Tenjolaut.

Penguatan sektor wisata lokal menjadi salah satu program yang harus menjadi pemikiran setiap pemerintah desa di Cikalongwetan. Dalam kapasitas sebagai pemangku kepentingan kewilayahan, mereka memiliki tugas untuk menyelenggarakan pemerintahan desa, melaksanakan pembangunan desa, pembinaan kemasyarakatan desa, dan pemberdayaan masyarakat desa.

Salah satu upaya untuk melaksanakan tugas dimaksud di antaranya dengan mengelola dan mengoptimalkan potensi yang dimiliki menjadi destinasi wisata lokal. Mendorong laju berkembangnya wisata lokal merupakan langkah strategis dalam mengoptimalkan kepemilikan potensi guna melakukan pemberdayaan masyarakat desa.

Pemberdayaan masyarakat menjadi salah satu langkah yang harus dilakukan setiap pemangku kepentingan kewilayahan. Langkah ini dilakukan untuk memberi motivasi terhadap terbentuknya kemandirian masyarakat. Kemandirian masyarakat menjadi muara dari upaya pemberdayaan masyarakat yang dilakukan setiap pemangku kepentingan.

Untuk sampai pada terbangunnya kemandirian masyarakat memang bukan langkah yang dapat dilakukan dengan mudah. Berbagai strategi dan energi harus dicurahkan guna mencapainya. Salah satu langkah yang mungkin dapat dilakukan adalah menumbuhkan inisiasi setiap pemerintah desa untuk dapat mengoptimalkan kepemilikan potensi yang dimiliki. Potensi yang mungkin dikembangkan di antaranya pengelolaan potensi wilayah menjadi destinasi wisata lokal.

Sampai saat ini beberapa potensi wisata lokal tersebut belum dapat menjadi magnet penarik para wisatawan guna mengunjunginya. Padahal, berbagai destinasi wisata lokal tersebut didominasi oleh nuansa alami yang dapat menarik para wisatawan, terutama mereka yang berasal dari perkotaan. Pengelolaan destinasi wisata lokal tersebut masih mengandalkan sumber daya manusia yang ada dengan tingkat kemampuan pengembangan wisata yang terbatas.

Sekalipun demikian, kunjungan pada beberapa destinasi wisata lokal pada setiap hari libur masih tetap berlangsung. Pada hari libur, para wisatawan yang didominasi kaum muda datang berkunjung ke berbagai destinasi wisata tersebut. Kedatangan para wisatawan yang berusia belia tersebut dimungkinkan karena mereka bisa sampai dengan mengendarai kendaraan roda dua. Hal ini dilatarbelakangi keberadaan akses infrastruktur yang belum memadai.

Peluang untuk lebih mengembangkan destinasi wisata tersebut agar menjadi tujuan wisata lokal, dilakukan dengan pemanfaatan kewenangan pemerintah desa. Sebagai pemangku kepentingan kewilayahan, pemerintah desa yang menjadi tempat keberadaan berbagai destinasi wisata tersebut memiliki peluang untuk mengembangkannya lebih baik lagi. Pemerintah desa dapat memberdayakan Badan Usaha Milik Desa (Bumdes) atau Badan Usaha Milik Desa Bersama (Bumdesma). Bumdes atau Bumdesma bisa dijadikan motor penggerak menggeliatnya wisata lokal di Cikalongwetan. Bahkan, bila memungkinkan, pemerintah desa dapat mensinergiskan Bumdes atau Bumdesma untuk bekerja sama dengan berbagai investor.

Beberapa kendala yang dihadapi guna melakukan pengembangannya, di antaranya pengelolaan yang belum profesional, sarana dan prasarana jalan yang belum mendukung, promosi yang hanya seadanya, serta belum terpadunya setiap destinasi wisata yang ada. Ketika kendala dimaksud bisa dipecahkan oleh para pemangku kepentingan, bukan tidak mungkin destinasi wisata di Cikalongwetan akan lebih menggeliat.

Alhasil, upaya mendorong destinasi wisata lokal sehingga menjadi tujuan para wisatawan perlu terus dilakukan oleh para pemangku kepentingan pada desa-desa di Cikalongwetan. Berbagai langkah strategis, terutama penataan sarana dan prasarana harus terus dilakukan. Menggeliatnya berbagai potensi wisata lokal dimungkinkan dapat berdampak terhadap kehidupan masyarakat sekitar, terutama peningkatan taraf perekonomiannya. ****DasARSS.

Style Switcher

Check out different color options and styles.