Awi Gabeng Kearifan Lokal Cikalongwetan yang Harus Dilestarikan

Dadang A. Sapardan

(Camat Cikalongwetan Kab. Bandung Barat)

Pada satu waktu berkesempatan ngobrol banyak dengan salah seorang penggiat kesenian di Cikalongwetan, tepatnya di Desa Cipada. Obrolan berkenaan dengan kehidupannya yang bergelut dengan kesenian Awi Gabeng. Dari obrolan yang dilangsungkan, diperoleh informasi bahwa kesenian Awi Gabeng merupakan salah satu bentuk kesenian buhun yang sempat berkembang dan menjadi konsumsi masyarakat di Cikalongwetan. Lewat kepiawaian pegiat muda, kesenian ini diangkat dan dilestarikan lagi di Desa Cipada. Dengan berbagai upaya, pelestarian kesenian ini dilakukan, termasuk berkenaan dengan awal mula keberadaannya hingga sempat mengalami kevakuman karena minimnya minat dari penerus kesenian ini. Kesenian yang secara turun-temurun dikembangkan oleh para tokoh penggiatnya, diangkat kembali dengan berbagai keterbatasan yang dimilikinya. Sekalipun demikian, saat ini kesenian Awi Gabeng dapat dinikmati dengan kemasan yang disesuaikan perkembangan zaman.

Bangsa Indonesia dianugerahi berbagai potensi yang memiliki nilai positif bagi kemajuan dan kesejahteraan masyarakat. Berbagai potensi tersebut dimungkinkan akan memiliki nilai manfaat ketika dikelola dengan baik dan penuh kesungguhan oleh masyarakat bersama para pemangku kepentingan. Tidak dapat dipungkiri bahwa kepemilikan potensi, baik potensi sumber daya alam, potensi sumber manusia daya manusia, serta potensi budaya (kearifan lokal) telah mengekalkan keberadaan bangsa hingga saat ini. Keberadaan berbagai potensi itu telah menjadikan bangsa ini terus survive dalam percaturan kegidupan global.

Bangsa ini kaya akan kepemilikan kearifan lokal. Dengan ratusan suku bangsa yang mendiami berbagai wilayah yang tersebar dari barat sampai timur Indonesia melahirkan ribuan kearifan lokal sebagai fondasi dalam kehidupan masyarakat sejak dahulu kala sampai saat ini. Para generasi pendahulu yang menjadi inovator lahirnya kearifan lokal telah menurunkan hasil kreativitasnya sebagai kado terindah bagi setiap generasi penerus. Salah satu bentuk kearifan lokal yang diturunkan oleh generasi terdahulu adalah kesenian. Kesenian inilah yang menjadi warisan bermakna bagi generasi masa depan sehingga bisa dijadikan pegangan dalam kehidupan mereka.

Kearifan lokal bukan semata warusan budaya tanpa makna dan tanpa nilai manfaat bagi masyarakat, tetapi menjadi strategi adaptasi mereka terhadap dinamika lingkungan alam yang dihadapi dan penuh tantangan. Melestarikan kearifan lokal yang berkembang di masyarakat bukan semata memaksakan kehendak kepada generasi baru untuk mengangkat kerinduan generasi lama terhadap fenomena tradisi yang pernah menjadi bagian dari kehidupannya. Melestarikan kearifan lokal menjadi upaya menjaga jati diri bangsa di tengah tantangan global yang semakin masiv dengan masuknya anasir-anasir asing.

Upaya pelestarian kearifan lokal sebagai refleksi kreativitas para pendahulu menjadi langkah yang harus dilakukan oleh setiap pemangku kepentingan, sehingga keberadaannya tidak tergerus oleh budaya baru yang berasal dari luar dengan ketidakjelasan nilai manfaatnya. Pelestarian kearifan lokal menjadi langkah mendesak yang harus dilakukan karena keberadaannya selama ratusan bahkan ribuan tahun telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat sehingga tetap langgeng. Sebuah kerugian besar bila kearifan lokal tidak terlestarikan, lenyap begitu saja dari kehidupan ini.

Salah satu bentuk kearifan lokal dalam jenis kesenian yang saat ini sedang dikembangkan oleh para penggiatnya adalah seni Awi Gabeng. Kesenian ini sempat mengalami kevakuman dan tidak dapat dinikmati oleh masyarakat karena tidak terwariskan secara sempurna kepada penerusnya. Penerus ini biasanya merupakan keturunan yang memiliki hubungan kekerabatan dengan para penggiat terdahulu. Sosok keturunan inilah yang biasanya menjadi pelestari kearifan lokal dalam bentuk kesenian.

Penamaan Awi Gabeng diambil dari bahan pembuatan alat seni pertunjukan ini. Penamaan Awi Gabeng diambil dari kata ‘awi’ yang sepadan dengan sejenis bambu. Demikian juga dengan kata ‘gabeng’ yang artinya mati dalam rumpunnya. Bambu yang mati pada rumpunya itulah menjadi bahan pembuatan waditra seni ini. Waditra itu ditabuh oleh para pemain dengan ritme teratur. Bunyi dari waditra itu menciptakan kemeriahan yang mengundang masyarakat untuk menyaksikan kesenian dimaksud.

Sebagaimana layaknya penampilan kesenian zaman dulu, untuk dapat menarik perhatian masyarakat, para penabu membunyikan waditra dengan ritme teratur yang enak didengar. Bunyi dari waditra inilah yang menjadi penggugah kepenasaran dan keinginan masyarakat untuk mendatangi dan menontonnya. Melalui tampilan waditra yang dibuyikan dengan apik, masyarakat diharapkan tetap tidak beranjak guna menyaksikan dan menikmatinya.

Sebagaimana beberapa jenis kesenian lain yang merupakan kearifan lokal, dimungkinkan pada awalnya, Awi Gabeng merupakan bentuk seni musik yang ditampilkan oleh para penggiatnya di kebun atau di sawah. Kesenian ini pada awalnya merupakan upaya pemecah keheningan dan kesunyian yang menerpa para penggarap sawah atau kebun. Susana demikian melahirkan kreativitas dari penggasanya dalam bentuk seni musik (waditra).

Sejalan dengan perkembangan waktu, Awi Gabeng menjadi salah satu bentuk kesenian yang ditampilkan pada beberapa perhelatan masyarakat desa. Awi Gabeng menjadi bentuk seni hiburan bagi masyarakat pedesaan di Cikalongwetan, terutama di wilayah yang saat ini secara administrarif menjadi wilayah Desa Ganjarsari.

Kesenian Awi Gabeng berkembang di wilayah yang sunyi dan jauh dari hiruk-pikuk kehidupan sebagaimana Desa Ganjarsari. Wilayah desa ini sebagian besar didominasi oleh hujainya hamparan pohon the dari perkebunan milik tuan tanah Belanda. Dengan kondisi wilayah demikian, tidak menutup kemungkinan masyarakat diterpa kesunyian sehingga membutuhkan keramaian lewat tampilan hiburan yang dapat memecah kasunyian. Tampilan seni Awi Gabeng menjadi salah satu solusi yang dikembangkan oleh para tokoh masyarakat.

Seni Awi Gabeng memiliki kekhasan dari sisi alat karena semua waditra-nya terbuat dari bambu. Sebagai wilayah yang subur dengan pertumbuhan berbagai jenis pohon bambu, masyarakat terstimulasi untuk berkreativitas dengan memanfaatkan keberadaannya. Sekalipun demikian, pohon bambu yang bisa dijadikan alat seni musik ini tidak sembarangan. Bambu yang layak dibuat dan dikreasi menjadi alat seni Awi Gabeng Adalah bambu yang mati pada rumpun bambu dengan kadar air mencapai titik 0%. Bambu dengan kondisi yang sudah mengering di rumpunnya dijadikan bahan dalam pembuatan alat seni Awi Gabeng.

Pada saat ini, keberadaan kesenian Awi Gabeng masih terus dikembangkan oleh para penggiatnya pada salah satu padepokan di Desa Cipada. Pengembangannya dilakukan oleh masyarakat di bawah arahan tokoh kesenian muda di Desa Cipada. Pengembangan di desa ini berlangsung karena penggiat kesenian yang cikal bakalnya dari wilayah Desa Ganjarsari, berdomisili di Desa Cipada.

Alhasil, kesenian tradisional sebagaimana seni Awi Gabeng merupakan bentuk kearifan lokal hasil kreativitas para pendahulu. Pelestarian kesenian ini menjadi tanggung jawab masyarakat dan berbagai pemangku kepentingan sehingga tidak mengalami kepunahan. Para penggiat yang mengangkat kesenian tradisional harus difasilitasi sehingga dapat terus bergerak dalam memperkenalkan dan mengembangkan jenis kesenian ini terhadap masyarakat, terutama para generasi muda. Langkah tersebut perlu dilakukan dalam upaya menumbuhkembangkan kecintaan masyarakat terhadap berbagai bentuk kearifan lokal hasil kreativitas para leluhur. ****DasARSS.

Style Switcher

Check out different color options and styles.