SAUNG "KASENG" & ETNIS TIONGHOA
Dinn Wahyudin
Saung "Kaseng" adalah simbol ikonik lokal. Ketika perjalanan mudik pulang kampung, kami selalu melewati saung sederhana tersebut. Di pinggir jalan yang menghubungkan kecamatan Cimalaka ke Tanjungkerta, ada sebuah saung sederhana yang oleh warga sering disebut “Saung Kaseng.” Ia bukan bangunan mewah, melainkan saung bambu beratap seng, walau sekarang sudah direnovasi, berdiri tegak di tepi jalan berkelok di perbukitan yang menurun tajam.
Konon, saung Kaseng awalnya dibangun atas inisatif seorang Tionghoa Sumedang bernama Ko Kaseng. Pada tahun 1960, Ko Kaseng seorang pengusaha dan pemilik oplet tua”Sukmalaya” berinisiatif untuk membangun saung itu sebagai ”shelter”, saung persinggahan. Ia terketuk hatinya, ketika banyak warga setempat yang pulang berkebun atau calon penumpang oplet, yang menunggu ber jam jam. Mereka sering kepanasan atau kehujanan tanpa perlindungan untuk rehat sejenak, di turunan jalan berkelok perbukitan jalan cimalaka ke Tanjungkerta. Itulah saksi bisu, saung Kaseng. Jejak potret kecil seorang etnis Tionghoa yang memperhatikan warga lokal. Malah bila ditarik ke cakupan yang lebih luas, etnis Tionghoa dengan tradisi dan budayanya senantiasa berupaya ”menyesuaikan” dan menarik simpati warga lokal.
“Saung Kaseng” dapat dimaknai sebagai representasi kecil dari dinamika perjumpaan antar-etnis di wilayah Sumedang. Khususnya antara komunitas Tionghoa dan masyarakat lokal Sunda. Nama “Kaseng” sendiri—yang dalam pelafalan lokal bisa saja berakar dari istilah atau panggilan khas Tionghoa—mengalami proses lokalisasi dalam lidah Sunda, sehingga terdengar akrab dan tidak berjarak. Saung sebagai bentuk arsitektur tradisional Sunda berpadu dengan kemungkinan kepemilikan, pengelolaan, atau penamaan oleh warga Tionghoa, menciptakan ruang hibrid yang melegenda. Dalam ruang seperti ini, identitas tidak dipertentangkan, tetapi dinegosiasikan secara cair melalui praktik sehari-hari. Dari bahasa yang digunakan, pola komunikasi antarbudaya, hingga pola interaksi antarwarga.
Lebih jauh, “Saung Kaseng” mencerminkan bagaimana relasi antara etnis Tionghoa dan lokal tidak selalu dibentuk oleh narasi besar sejarah. Dari suatu perjumpaan formal. Relasi erat ini sering lahir dari perjumpaan sederhana yang berulang— berbagi cerita, ngobrol, atau sekadar saling menyapa di pinggir jalan. Atau bisa jadi ketika itu tahun 1960an, obrolan seorang supir sekaligus pemilik oplet (Ko Kaseng) yang berdialog cair dengan calon penumpangnya yang menunggu setia di pinggir jalan. Terlepas dari motif bisnis, ekonomi, sosial, atau bahkan kebutuhan bertahan hidup, proses pembauran ini melahirkan bentuk kebudayaan keseharian yang inklusif dan adaptif. Ia menunjukkan bahwa integrasi tidak selalu hadir dalam kebijakan formal, tetapi tumbuh dari ruang-ruang kecil yang memungkinkan kehadiran bersama tanpa prasangka. Tanpa iri dengki atau kecurigaan. Dalam konteks ini, “Saung Kaseng” menjadi semacam mikro-kosmos: sebuah titik temu di mana perbedaan etnis melebur menjadi pengalaman kolektif yang sederhana namun bermakna.
"Mentor" Bisnis
Awal 1960an di lembur wewengkon Kabupaten Sumedang. Sarana prasarana jalan sangat terbatas. Jalan jalan masih taringgul berbatu dan tidak beraspal. Sarana mobilitas penduduk umumnya dengan menggunakan sepeda, jalan kaki, atau delman/sado. Sangat jarang ada kendaraan roda empat lewat ke jalan umum kecamatan apalagi ke desa. Sesekali oplet lewat kampung sungguh merupakan pengalaman langka. Anak anak sekampung nonton. Banyak di antara mereka mengejar dari belakang. Hanya sekedar ingin meraba oplet yang lewat. Bagi anak anak di kampung pada waktu itu, kesempatan bisa meraba oplet sungguh suatu kebahagiaan tiada tara. Naik oplet belum pernah. Oleh sebab itu, kesempatan yang mungkin bisa diperoleh adalah mengejar oplet yang lewat di kampung, sampai berhasil meraba ketika oplet terus melaju.
Pada tahun 1950an, Oplet merupakan salah satu moda transportasi darat yang mulai popular di Sumedang. Oplet, sebagai kendaraan umum (publik transport), pada awalnya dimiliki oleh para pengusaha etnis Tionghoa. Pada periode tahun 1960-an, ada sejumlah oplet dengan rute Sumedang – Tanjungerta yang dimiliki pengusaha etnis Tionghoa. Salah satunya Ko Kaseng sang pemilik Oplet ”Sukmalaya”, yang juga pioner usaha buka Toko Ikan asin di Kota Sumedang. Banyak warga etnis Tionghoa Sumedang yang mulai merintis jasa layanan angkutan oplet ini. Umumnya oplet diberi nama. Misalnya dari etnis Tionghoa yang saya ingat antara lain : Oplet Dodge Sukmalaya, pemiliknya Kaseng, supir legendarisnya Mang Urip. Oplet Chechrolet ”Angkawijaya,” pemiliknya Ko Otjun. Powerwagon Darawati (sejenis truk mini yang dimodifikasi menjadi kendaraan penumpang), pemiliknya Otjun. Mereka pioneer dalam usaha angkutan oplet.
Dalam perjalanan bisnisnya, pengusaha etnis Tionghoa, secara langsung ataupun tak langsung menjadi Mentor bagi warga lokal untuk mulai merintis dalam berbisnis. Di kampungku, Kampung Sudimampir Kecamatan Tanjungkerta Sumedang. Oplet mulai dikenal masyarakat pada akhir 1950-an. Ada beberapa oplet yang mengambil rute kota Sumedang ke Cipadung dan Tanjungkerta. Jumlah oplet yang lewat juga tak banyak. Dalam sehari, bisa dihitung dengan jumlah jari berapa oplet yang lewat. Banyak oplet mencapai masa jayanya karena menjadi kendaraan umum paling populer di kota kota, bahkan menjadi angkutan umum yang menghubungkan kota kabubaten ke kota kecamatan desa. Konon kata oplet berasal dari gabungan Opel Let atau Opel (merk pabrik yang memperoduksi kendaraan) dan Let (kecil). Jadi oplet artinya kendaraan kecil. Sebagai perangkat tertib berlalu lintas belok ke kiri atau ke kanan, oplet dilengkapi dengan lampu sein (sign lamp) yang bergerak ke atas ke bawah. Lampu sein ini yang sangat unik, berada di luar sisi kanan dan kiri. Klakson oplet juga unik karena terdapat di bagian luar. Cara membunyikan klakson, harus dipencet karena terbuat dari karet.
Di Kota Sumedang, oplet berbagai rute, biasa mangkal di Stanplat Ketib. Oplet tersebut ngetem, sampai beberapa jam, menunggu penumpang penuh. Demikian juga sebaliknya, masyarakat desa yang mau ke kota. Mereka harus menunggu beberapa jam sampai akhirnya ada oplet yang lewat. Jadi kehadiran oplet lewat ke kampung kampung sangat terbatas.Menjelang sore, tak ada lagi oplet lewat. Apalagi pada malam hari. Selain terbatas penumpang yang bepergian, masyarakat dihantui ketakutan apabila malam akan tiba.
Hadirnya jasa layanan oplet pada awal tahun 1960an di kampungku, ternyata melahirkan pebisnis baru. Dari pengusaha lokal di kampung kami antara lain : Oplet Sri Waluya pemilik H Atma. Oplet Karangjaya, pemiliknya Apih H.Dahlan dengan supirnya kang Ayat. Oplet Layeut, pemiliknya Apih H.Parya dengan supirnya kang Uus. Dodge Sodara, pemiliknya H. Darya, dan oplet Sri Waluya, pemiliknya H. Atma. Itulah para Joeragan Oplet pengusaha lokal di kampungku. Mereka berwiraswasta di bidang jasa angkutan darat yang memberi pengaruh juga pada perkembangan perekonomian, sosial, dan perkembangan kehidupan masyarakat pedesaan. Kehadiran etnis Tionghoa dalam berbisnis, sering menjadi ”Mentor” bagi para pengusaha lokal, dan sekaligus juga berdampak pada perkembangan perekonomian lokal.
Kasus lokal, dimensi Nasional
Dalam perspektif Sosiologi Ekonomi, peran etnis Tionghoa sebagai “mentor bisnis” dapat dipahami melalui konsep middleman minority (Bonacich, Edna, 1973). Kelompok ini kerap menempati posisi strategis dalam aktivitas perdagangan dan distribusi, bukan semata karena modal ekonomi, tetapi karena jaringan sosial, etos kerja, serta kemampuan membaca peluang pasar. Dalam konteks lokal seperti di Sumedang, kehadiran pengusaha Tionghoa dalam usaha oplet tidak hanya menghadirkan layanan transportasi, tetapi juga memperlihatkan praktik nyata kewirausahaan. Yaitu bagaimana mengelola risiko, menjaga relasi pelanggan, hingga membangun keberlanjutan usaha. Dari interaksi sehari-hari inilah terjadi proses pembelajaran sosial yang bersifat informal. Masyarakat lokal menyerap pengetahuan bisnis melalui observasi, pengalaman langsung, atau interaksi praktis dalam berbisnis.
Dalam kajian Modal Sosial yang dipopulerkan oleh Robert Putnam (2000), keberhasilan etnis Tionghoa dalam berbisnis juga ditopang oleh kekuatan jaringan (network), kepercayaan (trust), dan norma bersama (shared values). Modal sosial ini tidak bersifat eksklusif, melainkan dalam banyak kasus justru menjadi jembatan bagi masyarakat lokal untuk ikut terlibat dalam aktivitas ekonomi. Relasi antara Ko Kaseng (Pengusaha oplet) dan warga kampung etnis lokal, misalnya, dapat dilihat sebagai bentuk bridging social capital, yaitu jembatan antar kelompok berbeda yang membuka akses pengetahuan dan peluang. Dalam situasi ini, mentor tidak selalu hadir dalam bentuk formal, tetapi melalui keteladanan, konsistensi, dan keterbukaan dalam interaksi sosial dan persahabatan.
Dalam kaitan dengan Difusi Inovasi dari Everett Rogers (2003), praktik usaha oplet oleh pengusaha Tionghoa dapat dipandang sebagai inovasi yang kemudian diadopsi oleh masyarakat lokal. Pada tahap awal, etnis Tionghoa berperan sebagai innovator dan early adopter, yang memperkenalkan model usaha transportasi berbasis kendaraan bermotor di wilayah pedesaan. Selanjutnya, masyarakat lokal menjadi early majority yang mulai meniru dan mengembangkan usaha serupa, seperti terlihat pada munculnya para “juragan oplet” di kampung saya. Proses ini menunjukkan bahwa pembelajaran kewirausahaan tidak selalu berlangsung melalui pendidikan formal, melainkan melalui mekanisme sosial yang alami. Yaitu melalui proses melihat, meniru, memodifikasi (observe, imitate, and adapt) lalu mengembangkan sesuai konteks lokal. Dengan demikian, peran “mentor” etnis Tionghoa bukan hanya pada transfer keterampilan ekonomi, tetapi juga pada transformasi pola pikir masyarakat menuju kemandirian dan keberanian berusaha.
Itulah ”Saung Kaseng”, jejak potret persahabatan lokal antar-etnis yang melegenda!!