Memanfaatkan Kemerdekaan Dalam Perspektif Ilmu Tasawuf
Dr. KH. Asep Rifqi Fuad, M.Ag.
(Kepada MA Al Huda Cikalongwetan dan Dosen STAI Darul Falah Cihampelas Bandung Barat)
Tujuan “Tasawuf” adalah upaya mendekatkan diri kepada Allah Swt., sedekat mungkin sehingga sampai pada Ma’rifatullâh, mengenal Allah Swt., dalam arti yang sesungguh-Nya, dan mengenal hakikat yang Maha Ada.
Allah Swt., berfirman Q.S. Alfâtihah (1) : 5 dan 6.
إِيَّـاكَ نَـعْبُدُ وَإِيَّـاكَ نَسْـتَعِيْنُ إِهْدِنَـا الصِّرَاطَ الْمُسْـتَقِيْمَ
Hanya kepada Engkau kami beribadah, dan hanya kepada Engkau kami memohon pertolongan. Tunjukanlah kami pada Jalan yang Lurus.
Ibnu Qayyim, salah seorang tokoh Tasawuf Salafi dalam kitab Madârij al-Sâlikin menyatakan, bahwa ‘maksud Istiqâmah di sini bukan semata-mata “Jalan Lurus”, tapi maksud al-Şirât al-Mustaqim dalam ayat ini adalah “Jalan Terdekat”, sebab garis lurus itu pada dasarnya garis terdekat yang menghubung antara dua titik, bila garis itu bengkok, maka semakin jauh pada tujuannya.
Jadi ayat ini mengandung makna bahwa kita memohon pada Allah Swt., agar dianugerahi cara atau jalan yang dapat mendekatkan seorang hamba pada Allah (taqarruban ila Allâh), dan cara atau jalan yang dapat mendekatkan hamba pada Allah sedekat mungkin itu adalah cara yang tempuh oleh para Sufi dengan Ilmu Tasawufnya.
Hadis riwayat Muslim yang diterima dari Umar bin Ĥattâb R.a., menjelaskan bahwa suatu hari Rasulullah Saw., dan para sahabat kedatangan seseorang (Jibril) yang bertanya tentang Islâm, Imân dan Ihsân.
Tentang Islam, Rasullah Saw., menjawab.
اَلإِسْلاَمُ أَنْ تَشْهَدَ أَنْ لآٰإِلَـهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنَّ مُـحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ وَتُـقِيْـمَ الصَّلاَةَ وَتُؤْتِيَ الزَّكَاةَ وَتَصُوْمَ رَمَضَانَ وَتَـحُـجَّ البَيْتَ اِنِ اسُتَطَعْتَ إِلَـيْهِ سَبَيْلاً
Islam adalah engkau bersyahadat bahwasanya tidak ada Tuhan selain Allah dan Muhammad itu adakah utusan Allah, mendirikan Salat, membayar Zakat, melaksanakan Şaum Ramadan, menunaikan Haji jika engkau mampu menempuh perjalanannya.
Tentang Iman, Rasul Saw., menjawab.
أَنْ تُؤْمِنَ بِاللهِ وَمَلآٰئِـكَـتِهٖ وَكُـتُـبِهٖ وَرُسُـلِهٖ والْيَوْمِ الآٰخِـرِ وَتُؤْمِنَ بَالْـقَـدَرِ خَيْرِهٖ وَشَـرِّهٖ
Engkau beriman kepada Allah, Malaikat Allah, Kitab-kitab Allah, Rasul-rasul Allah, Hari Akhir, dan beriman kepada Qadar Allah, Qadar Baik dan Qadar Buruk (semuanya berasal dari Allah).
Tentang Ihsan, Rasul Saw., menjawab.
أَنْ تَـعْبُدَ اللهَ كَأَنَّكَ تَـرَاهُ فَـإِنْ لَـمْ تَـكُنْ تَـرَاهُ فَـإِنَّـهُ يَـرَاكَ
Engkau beribadah kepada Allah seolah-olah engkau melihat-Nya, jika engkau tidak mampu melihat, maka yakinkanlah (dalam hatimu) bahwa Allah melihat engkau.
Dari istilah ‘Islam’, para ulama mengelaborasikannya, dan mengembangkannya, lahirlah “Ilmu Fiqih” (Hukum Islam) ; Dari istilah ‘Iman’, para ulama mengelaborasikannya dan mengembangkannya, lahirlah “Ilmu Kalam” atau “Ilmu Tauhid” : Dari istilah ‘Ihsan’, para ulama mengelaborasikannya dan mengembangkannya, lahirlah “Ilmu Tasawuf”, “Akhlak Tasawuf” atau “Tarbiyah Rȗhiyah” (Pendidikan Ruhani).
Dari uraian ini kita dapat menyimpulkan bahwa “Tasawuf” itu adalah sepertiga agama, barangsiapa yang mengabaikan “Tasawuf”, berarti mengabaikan sepertiga agama.
Saran Ulama yang Terlupakan
Ketika para para pemuda dan tokok pergerakan nasional mendesak Soekarno Hatta agar segera memproklamasikan kemerdekaan, Soekarno merasa ragu, namun para pemimpin kita sebagaimana masyarakat muslim biasa, ketika menghadapi permasalahan penting dan genting, suka meminta nasihat dan saran pada para ulama. Demikian pula Soekarno, ia segera meminta nasihat kepada KH. Hasyim Asy’ari, beliau bertanya pada KH. Hasyim kapan waktu yang tepat untuk melaksana proklamasi ?
Hadratus-syaikh menyarankan agar proklamasi dilaksanakan pada hari Jumat, bulan ramadan. Awal ramadan tanggal 8 Agustus 1945, utusan Bung Karno datang menemui KH. Hasyim, menanyakan hasil istikharah para kiai, sebaiknya tanggal dan hari apa proklamasi kemerdekaan. Maka dipilihlah tanggal 9 Ramadan 1364 H, bertepatan tanggal 17 Agustus 1945. “Saat itu para ulama menyatakan sekarang atau menunggu merdeka 300 tahun lagi !”.
*****
Kini kita sudah merdeka 80 tahun, artinya memiliki waktu luang untuk memanfaatkan kemerdekaan ini selama 80 tahun. Apa yang sudah kita hasilkan selama 80 tahun ini ?. Apakah waktu yang lama itu sudah kita manfaatkan ?, atau sebaliknya ?
Segala yang sudah kita lakukan hendaknya berorientasi pada kehidupan duniawi dan ukhrawi, sebab dalam keyakinan kita, hidup yang kita alami intinya ada dua, yaitu kehidupan duniawi dan kehidupan ukhrawi, ada banyak kiat yang ditawarkan para sufi (ahli Tasawuf) dalam merancang program kehidupan duniawi dan ukhrawi, namun sebelum menerangkan lebih jauh, akan diuraikan terlebih dahulu tentang waktu dalam pandangan para sufi.
Waktu dalam Pandangan Para Sufi
Dalam pandangan kaum sufi, waktu adalah umur dan modal utama dalam kehidupan. Satuan waktu terkecil adalah detik, enampuluh detik berarti satu menit, enampuluh menit berarti satu jam, duapuluh empat jam berarti satu hari, tujuh hari berarti satu minggu, empat minggu atau tigapuluh berarti satu bulan, dan duabelas bulan berarti satu tahun. Satu tahun, empatpuluh tahun, limapuluh lima tahun, tujuh puluh tahun, delapan puluh dan sembilan tahun adalah umur kita. Sebab itu, waktu adalah umur kita, kita tidak boleh menyia-nyiakan waktu, karena menyia-nyiakan waktu samadengan menyia-nyiakan umur.
Kaum sufi juga memandang bahwa waktu adalah modal dasar hidup, kita dapat beribadat, berwira usaha, bekerja, belajar, mengajar, meneliti, bertani dan lain-lain, waktu sangat mahal harganya, bahkan harganya tidak ternilai, jika sudah lewat, waktu akan menghilang dan tak ada gantinya. Ibarat sungai, sifat air sungai itu, mengalir terus menerus tanpa henti. Oleh sebab itu, Heraklitus filosof Yunani kuna mengatakan, Panta Rhei, “kita tidak mungkin melihat sungai dua kali”. Demikian juga waktu, tidak mungkin waktu akan kembali.
Imam Gazali, seorang sufi abad XII M (Albidayah : 42) menyarankan jangan sampai kita tidur lebih dari delapan jam sehari, sebab jika kita tidur delapan jam sehari, sama dengan tidur sepertiga hari. Itu artinya jika kita dianugerahi usia enam puluh (60) tahun, waktu yang kita habiskan untuk tidur dua puluh (20) tahun, sisa waktu tidur empat puluh (40) mesti kita manfaatkan untuk apa ?
Pemanfaatan Waktu dalam Perspektif Tasawuf
Masih dalam Kitab Albidayah : 31-35, al-Gazali menyatakan, jika kita memiliki waktu, ada empat hal yang dapat kita lakukan.
Satu, mencari, baik membaca, menulis atau meneliti “Ilmu yang Manfaat dalam Agama”, yaitu ilmu yang menambah rasa takut terhadap Allah Swt., membersihkan diri kita, baik lahir maupun batin, menambah kemampuan untuk evaluasi diri kita, bukan mengevaluasi, mengamati orang lain. Bagaiman pun hebatnya kemampuan mengamati apalagi mengeritik oranglain, tanpa disertai kemampuan evaluasi diri, hal itu tidak akan memperbaiki diri kita, tidak membuat kita lebih baik. Diantara ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang dapat menjernihkan mata fisik dan mata batin (bashirah) kita.
Dua, jika tidak dapat menggali ilmu, kita isi waktu kita dengan “Ibadat Mahdah”, yaitu ibadat yang langsung ditujukan pada Allah Swt., seperti salat sunat, membaca Alquran, zikir, wirid membaca tasbih, takbir dan tahmid.
Tiga, “Ibadat gair Mahdah”, yaitu ibadat yang tidak langsung pada Allah, tapi melalui makhluk-Nya, yaitu memberikan kabaikan pada orang lain, atau membahagiakan orang lain, seperti zakat, sedekah, kerja bakti, mengajar, membangun jembatan, membersihkan jalanan, bekerja dengan baik dan amanah, ngaheuyeuk dayeuh, ngolah nagara, membantu pengobatan orang yang miskin, membersihkan ruangan umum dan lain-lain. Semua ini jika didasari dengan niat karena Allah akan mendapatkan pahala.
Empat, melakukan kasab, berkerja atau berusaha demi anak, istri dan semua anggota kaluarga. Bukankah kasab itu kewajiban? Karena itu, kasab pasti berpahala, bahkan jika kita perhitungkan waktunya, ternyata waktu kasab atau berkerja lebih lama daripada melakukan Salat Wajib, sebab jika satu rakaat salat satu menit kali 17 rakaat sama dengan tujuh belas menit, jika satu rakaatnya dua menit, salat yang kita lakukan hanya tiga puluh empat menit, sedangkan waktu kerja kita delapan jam. Apalagi jika kasab atau kerja kita disamping bermanfaat untuk keluarga, bermanfat pula bagi tetangga kita. Nilai ukhrawinya pasti berlipat ganda.
Sabda Rasul Saw.
إِنَّ مِنَ الذُّنُوْبِ ذُنُوْبًا لاَ يُـكَـفِّـرُهَا إلاَّ اَلْـهُـمُـوْمُ بِطَلَبِ الْمَعِيْشَةِ
Dari pelbagai dosa yang dilakukan manusia, ada sejenis dosa yang dapat diampuni, kecuali bersungguh-sungguh mencari penghidupan (kasab) bagi keluarga. H.R. Tabrani.
Demikianlah saran yang disampaikan kaum sufi tentang memanfaatkan kemerdekaan. ****