Pembelajaran Mendalam, Pendekatan yang Harus Mampu Diterapkan Guru

Dadang A. Sapardan

(Camat Cikalongwetan, Kab. Bandung Barat)

Satu waktu berkesempatan ngobrol dengan seorang seorang guru pada satuan pendidikan di Cikalongwetan. Obrolan berkenaan dengan beberapa perubahan kebijakan mendasar sejalan dengan perubahan kepemimpinan pada Kementerian Pendidikan Riset dan Teknologi yang bertransformasi menjadi Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah. Dalam obrolan tersebut terungkap bahwa perubahan yang harus dilakukan oleh satuan pendidikan dengan guru sebagai aktor utamanya adalah penerapan pendekatan pembelajaran mendalam (deep learning) serta tujuh kebiasaan anak Indonesia hebat. Kebijakan baru tersebut pada satu sisi melahirkan kegalauan karena minim pengetahuan dan informasi tentang pendekatan itu. Selama ini tata kelola pendidikan di Indonesia tidak terlepas dari berbagai perubahan yang diinisiasi pemangku kebijakan di kementerian. Hal itu bisa dimungkinkan karena penerapan kebijakan harus fenomena kehidupan yang berlangsung. Kondisi inilah yang mengharuskan setiap pemangku kebijakan pendidikan melakukan berbagai perubahan.

Dalam konteks pendidikan, satuan pendidikan yang menjadi ujung tombak kebijakan pendidikan harus dapat menerjemahkan setiap kebijakan aktual pendidikan sehingga mampu mengimplementasikannya dalam tataran teknis. Sebagai salah satu ekosistem dalam satuan pendidikan, guru terposisikan pada tempat sangat strategis karena berada di garis depan proses transformasi setiap peserta didiknya. Mereka menjadi sosok yang berhadapan langsung dengan peserta didik dalam upaya menjadikannya sebagai sumber daya manusia unggul dan berkompeten sehingga mampu menghadapi kehidupan masa depan yang semakin kompleks.

Guru menjadi unsur sentral dan strategis yang dapat mendukung keberlangsungan pembelajaran. Guru menjadi salah satu faktor penentu keberlangsungan pendidikan, bahkan menjadi faktor pengungkit pemajuan pendidikan dengan core peningkatan kualitas setiap outpun dan outcomes-nya. Peran guru dalam pendidikan, paling utama berada dalam pelaksanaan proses pembelajaran. Mulai dari penyusunan perencanaan sampai dengan pelaksanaan proses pembelajaran, sosok guru berperan sangat strategis. Bagaimana proses pembelajaran akan berlangsung dengan baik, memiliki ketergantungan terhadap upaya yang dilakukan setiap guru.

Dengan demikian, penyiapan guru yang mampu menafsirkan kebijakan pendidikan hingga dapat menerapkan dalam pelaksanaan pembelajaran merupakan langkah mutlak dan harus terus-menerus dilakukan oleh para pemangku kebijakan pendidikan. Upaya tersebut didasari tujuan agar setiap guru memiliki kemampuan dalam melaksanakan pembelajaran dengan efektif dan efisien sehingga sesuai dengan kebijakan yang ditetapkan.

Untuk menyiapkan guru yang mampu menyikapi fenomena kontekstual, bukanlah perkara mudah, sebagaimana membalikkan tangan. Berbagai langkah yang dapat dilakukan, di antaranya melalui pemberian penguatan kapasitas guru pada berbagai jenjang pendidikan. Penguatan kapasitas ini tidak dapat terhenti pada satu waktu saja tetapi harus terus dilakukan setiap waktu.

Tidak bisa dipungkiri bahwa guru merupakan sosok yang harus mengikuti perkembangan kehidupan masa kini tetapi harus dapat menyiapkan setiap peserta didik agar dapat survive dalam kehidupan masa depan. Guru merupakan sosok yang hidup pada masa sekarang tetapi harus memiliki wawasan jauh ke depan sehingga mampu memprediksi fenomena kehidupan masa depan yang akan dihadapi setiap peserta didiknya. Dengan kata lain, guru harus menjadi sosok futuristik, sosok dengan pandangan yang jauh ke depan.

Dengan tampilan guru yang mampu melakukan perubahan terus menerus, capaian tujuan pendidikan sebagaimana diamanatkan dalam visi pendidikan Indonesia diharapkan dapat tercapai. Stimulasi untuk melakukan perubahan setiap saat harus datang dari sisi internal dan eksternal. Guru harus memiliki keinginan kuat untuk terus berubah dalam menerapkan pola pembelajaran yang dilakukannya. Demikian pula dengan para pemangku kebijakan, mereka harus dapat men-support dengan menerapkan kebijakan strategis dalam upaya menguatkan kompetensi guru.

Salah satu kebijakan baru yang harus mampu diimplementasikan oleh setiap guru adalah penerapan pendekatan pembelajaran mendalam (deep learning). Pendekatan ini merupakan langkah yang dilakukan oleh Kemendikdasmen untuk menjawab tantangan berkenaan dengan krisis pembelajaran serta sebagai kebutuhan pembelajaran abad ke-21. Melalui penerapan pendekatan ini, peserta didik diharapkan memiliki keterampilan berpikir tingkat tinggi, mampu menerapkan pengetahuan dalam konteks dunia nyata, serta dapat mengikuti pembelajaran yang berkesadaran, bermakna, dan menggembirakan.

Pembelajaran menjadalan didefinisikan sebagai pendekatan yang memuliakan dengan menekankan pada penciptaan suasana belajar dan proses pembelajaran berkesadaran, bermakna, dan menggembirakan melalui olah pikir, olah hati, olah rasa, dan olah raga secara holistik dan terpadu. Pendekatan ini mendorong setiap peserta didik untuk belajar secara sadar dan penuh perhatian, menikmati proses pembelajaran dengan antusias dan semangat serta menemukan makna dan relevansi dari apa yang dipelajari terhadap kehidupan mereka. Hal ini memungkinkan peserta didik untuk terlibat aktif, menghubungkan pengetahuan baru dengan pengalaman sebelumnya, dan membangun pemahaman yang berdampak jangka panjang.

Melalui pembelajaran berkesadaran, peserta didik diajak untuk hadir secara penuh dalam proses pembelajaran yang diikutinya sehingga mereka memahami bahwa belajar adalah proses refleksi mendalam yang melibatkan penerimaan keragaman perspektif dan komitmen untuk terus berkembang. Pembelajaran bermakna menekankan bahwa materi yang diajarkan memiliki relevansi dengan kehidupan nyata peserta didik, sehingga pendidikan harus dikaitkan dengan konteks sosial, budaya, serta tatangan kehidupan keseharaian yang dihadapi setiap peserta didik.

Pada proses pembelajaran berkesadaran, peserta didik diajak terlibat secara menyeluruh, meningkatkan kesadaran berpikir, perasaan, dan lingkungan sekitarnya. Guru harus mampu mengajak setiap peserta didik untuk memiliki kedasaran menimba ilmu dalam proses pembelajaran. Timbulnya kesadaran ini akan memantik semangat peserta didik untuk melakukan ekplorasi pengetahuan di bawah arahan guru.

Pembelajaran bermakna mengutamakan pemahaman materi secara menyeluruh, tidak sekedar menghafal. Ketika peserta didik terlibat dalam pembelajaran bermakna, peserta didik akan aktif untuk membuat keterkaitan, menganalisis, dan mensintesis informasi. Dengan demikian, pengetahuan baru yang diperolehnya benar-benar melekat kuat dan bermakna untuk bekal mereka dalam menyikapi fenomena kehidupan masa kini dan masa depan.

Pembelajaran menggembirakan berfokus pada pemantikan emosi positif yang berhubungan dengan proses pembelajaran termasuk rasa ingin tahu, semangat, dan motivasi. Mempercepat lahirnya rasa nyaman karena memberikan tantangan kepada peserta didik untuk mengeksplorasi ide-ide kompleks. Suasana menggembirakan dalam proses pembelajaran dapat menjadi pemicu setiap peserta didik untuk lebih mendalami pengetahuan yang disajikan dalam proses pembelajaran.

Dari paparan di atas dapat disintesikan bahwa pendekatan pembelajaran mendalam mengarah pada tiga core utama. Ketiganya adalah pembelajaran berkesadaran, pembelajaran bermakna, serta pembelajaran menggembirakan. Pada ketiganya, setiap guru harus berkonsentrasi saat melaksanakan proses pembelajar.

Alhasil, pemahaman tentang pendekatan mendalam yang menjadi kebijakan baru dalam sistem pendidikan harus terus dikuatkan oleh setiap pemangku kepentingan. Bagi guru pendekatan ini sebenarnya sudah bukan merupakan barang baru karena selama proses bergulat dalam khazanah pendidikan, mereka sering disuguhi berbagai kebijakan baru. Karena itu, mereka tinggal mensintesiskan berbagai pengetahuan yang telah dimilikinya dengan kebijakan penerapan pendekatan pembelajaran mendalam. ****DasARSS.

Style Switcher

Check out different color options and styles.