Manakib, Penyampaian Biografi Alim Ulama
Dadang A. Sapardan
(Camat Cikalongwetan, Kab. Bandung Barat)
Pada suatu waktu berkesempatan hadir dalam kegiatan Haol ke-68 KH. Rd. Ahmad Zakaria yang lebih dikenal dengan Mama Eyang Rende di Pondok Pesantren Assalafiyyah, Rende Cikalongwetan. Haol yang diselenggarakan setiap setahun sekali selepas perayaan Idul Fitri tersebut dihadiri ribuan jamaah dan santri dari berbagai daerah, termasuk dari luar Jawa. Kehadiran kali ini menjadi kehadiran ketiga kalinya. Berbagai acara untuk mengisi kegiatan Haol Mama Eyang Rende diselenggarakan oleh panitia yang merupakan keturunannya. Salah satu agenda kegiatan yang diselenggarakan adalah Manakib Mama Eyang Rende. Manakib disampaikan oleh seorang alim ulama yang sangat paham dan mendalami jejak langkah Mama Eyang Rende. Manakib menjadi suguhan kegiatan yang memperluas wawasan para jamaah tentang perjalanan Mama Eyang Rende dalam berbagai dimensi, penguatan diri dan penguatan masyarakat dalam pemahaman ke-Islam-an.
Menyelami berbagai ritual kegiatan keagaamaan merupakan langkah yang sangat menantang. Banyak sekali aktivitas keagamaan yang diselenggarakan komunitas atau organisasi agama Islam ketika dimasuki lebih dalam memiliki relevansi dengan fenomena kehidupan saat ini dan masa depan.
Berbagai aktivitas keagamaan yang masuk pada ranah kearifan lokal, lebih terseret pada nuansa tradisional sehingga dianggap kuno oleh sebagian masyarakat. Namun, pada kenyataannya, merupakan aktivitas yang memiliki relevansi dengan kehidupan kekinian. Bahkan dimungkinkan memiliki relevansi dengan kehidupan masa depan melalui berbagai pembaruan yang tidak menyerempet pakem atau aturan.
Dalam memandang kearifan lokal, masyarakat kadang terpenjara denganfrasa ‘kampungan’, 'kuno', 'kampungan', 'ketinggalan zaman', atau frasa sejenis dengan makna negatif. Frasa demikian melahirkan hilangnya keinginan dan kepercayaan diri untuk lebur dalam aktivitas dimaksud.
Bila melihatperkembangan kehidupan ini, aktivitas kearifan lokal merupakanwarisan budaya yang memilikinilai luhur serta bermanfaat bagi keberlangsungan kehidupan. Berbagai nilai kehidupan dapat diselami dari aktivitas kearifan lokal yang hidup dan berkembang di kalangan masyarakat. Nilai-nilai kehidupan inilah yang harus dieksplorasi dan dikristalisasikan kepada masyarakat sehingga mereka akan dapat memahami nilai intrinsik dari kearifan lokal dimaksud. Hal itu patut dilakukan karena nilai-nilai hidup yang terkandung secara intrinsik dalam kearifan lokal telah memandu masyarakat untuk dapat survive dalam kehidupan hingga saat ini.
Kearifan lokal inilah yang harus terus ditumbuhkembangkan. Masyarakat harus didorong untuk memiliki kecintaan dan ikut lebur dalam aktivitas kearifan lokal sehingga memiliki kekuatan besar guna menumbuhkembangkannya. Mereka patut didorong untuk memiliki kebanggan terhadap kearifan lokal yang bernilaimanfaat bagi kehidupan dengan kandungan filosofi yang sangat tinggi.
Harapan tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi kita untuk membangkitkan kesadaran bahwa aktivitas kearifan lokal yang dimiliki harus terus ditumbuhkembangkan karena merupakan identitas yang melekat sebagai sebuah banga. Barangkali kesadaran ini perlu terus dibangun, bahwa kita memiliki kearifan lokal yang tidak dimiliki oleh bangsa lain serta tidak kalah bergengsinya dan bermanfaat bagi kehidupan masyarakat.
Mempertahankan keberadaan kearifan lokal menjadi tugas berbagai pemangku kepentingan untuk terus mengampanyekan di kalangan masyarakat. Keberadaannya harus terus diangkat sehingga masyarakat memiliki perhatian kuat untuk mempertahankan bahkan mengembangkan berbagai aktivitas kearifan lokal.
Manakib menjadi bagian dari aktivitas kearifan lokal dalam nuansa kehidupan beragama Islam. Manakib merupakan penuturan secara lisan tentang biografi seorang alim ulama. Kegiatan ini sering diikuti dengan jamaah dalam jumlah puluhan bahkan ratusan serta dengan tempat yang tidak terbatas. Untuk konteks Indonesia, terutama jamaah Nahdlatul Ulama dan beberapa organisasi keagamaan lainnya, manakib yang sering disampaikan oleh para alim ulama adalah manakib Syeh Abdul Qodir Jaelani, seorang wali Allah yang sangat dihormati dan menjadi rujukan sekian banyak ulama dan umat Islam.
Mengacu pada beberapa literatur, manakib dimaknai sebagai biografi atau riwayat hidup seorang tokoh agama Islam yang dianggap penting dan memiliki pengaruh kuat dalam perkembangan dan penyebaran agama Islam. Manakib biasa berupaka riwayat dari ulama atau wali Allah. Lebih spesifik lagi, manakib sering merujuk pada kitab atau teks yang berisi kisah atau biografi tentang perjalanan kehidupan, perbuatan baik, dan kesalehan yang dilakukan selama alim ulama dimaksud masih hidup dan berhikmah untuk kemajuan dan perkembangan agama Islam.
Penyampaian manakib menjadi bagian tak terpisahkan dari kegiatan haol atas seorang alim ulama yang telah mangkat serta dalam perjalanan kehidupannya telah menorehkan jejak positifnya, terutama terkait pemembinaan umat dan pengembangan eksistensi agama Islam di kalangan jamaah dan masyarakat luas. Dalam haol tersebut disampaikan manakib yang berisi penggalan perjalanan kehidupan, perbuatan, dan kesalehan yang menjadi bagian dari kehidupan alim ulama.
Sesuai dengan budaya yang menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan bangsa Indonesia, terutama umat Islam di Indonesia, manakib dituturkan secara lisan oleh salah seorang alim ulama serta disimak oleh para jamaah atau santri yang hadir pada perhelatan itu. Fenomena manakib dalam bentuk tuturan telah berlangsung dalam kurun waktu yang sangat lama. Hal itu dimungkinkan karena budaya bangsa Indonesia yang menganut budaya lisan atau budaya tutur.
Manakib menjadi sarana ampuh yang selama ini dilakukan untuk menginformasikan perjalanan hidup seorang alim ulama secara detail dan faktual sehingga dapat memberi pelajaran berharga serta menjadi inspirasi terhadap para jamaah atau santri untuk terus menyelami agama Islam. Berbagai hikmah dan nasihat disampaikan dalam manakib tersebut dengan harapan agar para jamaah dapat mengambil teladan dari alim ulama yang manakibnya disampaikan.
Alhasil, manakib menjadi sarana ampuh yang dilakukan oleh para alim ulama untuk memberi pencerahan terhadap para jamaah atau santri. Manakib menjadi jamuan yang disampaikan kepada para jamaah atau santri sehingga mereka dapat meneladani jejak langkah alim ulama dalam melakukan penguatan ke-Islam-an. ****DasARSS.